foto by instagram.com/ahmad_ilysn

Sebelum Berkunjung ke Kawah Ijen, Baca ini Dulu

Diposting pada

Lokasi: Kec. Klobang, Kab. Bondowoso dan Kec. Licin, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
Map: Klik Disini
HTM: Wisatawan Lokal Rp.15.000, Wisman Rp.150.000
Buka Tutup: 24 Jam

Kawah bukan hanya menjadi wilayah disiplin ilmu vulkanologi, tapi juga bisa masuk ke ranah pariwisata jika keindahannya mampu memukau wisatawan. Hal itulah yang terjadi pada Kawah Dieng yang ada di Wonosobo, Jawa Tengah, serta kawah di dua gunung yang ada di East Java yaitu Gunung Bromo dan Gunung Ijen.

Keindahan kawah di tiga tempat tersebut mampu menyihir wisatawan, sehingga setiap harinya ada ribuan orang yang dengan sukarela mengeluarkan tenaga dan juga uang untuk sekedar menikmati keindahan kawah.

Bromo dan Ijen bahkan dikenal di dunia serta banyak dikunjungi turis mancanegara karena memiliki fenomena alam yang sangat istimewa, yaitu Milky Way di Bromo dan Blue Fire di Ijen.

foto by instagram.com/ardianthywulan

Fenomena Blue Fire di Kawah Ijen mulai dikenal di dunia sejak ahli Vulkanologi dan Geologi asal Perancis, Katia Krafft dan Maurice pada tahun 1975 meluncurkan buku yang berjudul “A’lassaut des volcans Islande Indenesie”.

Selanjutnya pada tahun 1999, sebuah acara TV bernama “Ushuala Nature” menampilkan ahli Vulkanologi, Jacques Marie Bardintzeff dan Penjelajah Alam, Nicolas Hulot, saat melakukan aktifitas di Kawah Ijen. Acara TV yang digemari di Perancis, Kanada, Swiss, Quebec dan Belgia ini membuat nama Ijen semakin dikenal.

Berlanjut pada tahun 2010, sebuah program reality show bertajuk “Peking Express” yang juga terkenal di begara-negara berbahasa Perancis, melakukan shooting di Kawah Ijen.

Disusul Oolivier Grunewald, seorang photographer yang karya-karyanya banyak menghiasi media internasional, seperti National Geographic, Focus dan BBC Wildlife, pada tahun 2013 datang bersama tim untuk membuat proyek film dokumenter selama 30 hari di Kawah Ijen.

Film berdurasi 52 menit yang ditayangkan untuk pertama kali di Ushuaia TV Perancis tersebut berjudul “Kawah Ijen – Le Mystere des Flammes Bleues” yang dalam Bahasa Inggrisnya berjudul “Kawah Ijen Volcano and the Mystery of the Blue Flammes” yang dalam Bahasa Indonesia memiliki Arti “Gunung Kawah Ijen dan Misteri Api Biru”.

foto by instagram.com/yeniafrds

Promosi gratis dari sejumlah media di luar negeri tersebut membuat banyak turis mancanegara berduyun-duyun datang ke Kawah Ijen. Mereka tidak hanya ingin melihat misteri api biru, tapi juga ingin melihat keindahan Kawah Ijen yang masih natural.

Namun sayang, kondisi yang masih alami tersebut saat ini terancam, menyusul dibangunnya sebuah bangunan permanen di salah satu bibir kawah dengan pondasi yang ditempatkan di dapur belerang dan pagar di sekeliling kawah. Ironisnya, proyek ini justru mendapat dukungan dari BKSDA Provinsi maupun Kabupaten.

Pembangunan gedung di atas gunung yang tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan dampaknya terhadap alam tersebut langsung mendapat protes dari sejumlah kalangan, mulai dari para pecinta alam, pecinta wisata, pelaku jasa wisata sampai dengan jasa transportasi.

Ribuan orang melakukan demo, berunjuk rasa dan menandatangani petisi untuk menolak proyek senilai Rp. 8 milyar. Namun Sayang, proyek yang dimulai pada bulan November 2017 tersebut hingga saat ini masih tetap berjalan, meskipun protes tidak henti-hentinya disuarakan.

Jika bangunan gedung tersebut benar-benar terwujud, suasana Kawah Ijen yang alami, bisa jadi hanya dapat disaksikan melalui foto-foto dan video yang ada di facebook, youtube, instagram serta wallpaper.

foto by instagram.com/ilham_kurnia_p

Sejarah Deskripsi

Kawah Ijen sebagaimana deskripsi, review dan information yang tertulis di Wikipedia, National Geographic, Indonesia Trip dan Kaskus, adalah sebuah danau yang berasal dari letusan Gunung Ijen. Akibat letusan gunung tersebut terciptalah sebuah kawah dan kawah itu digenangi oleh air sehingga terbentuk sebuah danau kawah yang menyuguhkan pemandangan mempesona.

Kawah ini terletak di tengah kaldera terluas di Pulau Jawa dengan diameter 6 km. Sedang dimensi kawah berukuran 960 x 600 meter2 berkedalaman 200 meter. Danau kawah ini merupakan kawah terbesar dengan tingkat keasaman tertinggi di dunia yang memiliki ph di bawah 0,5, sehingga dapat memnbuat tubuh manusia larut dalam waktu cepat.

Karena kawasan kawah seluas 2,468 hektas ini berada di atas Puncak Gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2.443 mdpl, membuat udara sekelilingpun sangat dingin.

Suhu rata-rata di kawasan ini sekitar 10O C bahkan dalam kondisi ekstrim bisa mencapai 2O C. Tidak heran jika sejumlah tanaman yang hanya dapat ditemui di dataran tinggi dapat dijumpai di sini, seperti Cemara Gunung, Bunga Edelweis dan Pohon Manisrejo.

Gunung Ijen adalah volcano atau gunung berapi yang terakhir meletus pada tahun 1999 dan hingga tahun 2021 masih menunjukkan tanda-tanda akan meletus sehingga status Siaga kerapkali disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kepada masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

foto by instagram.com/bratasuartika

Gunung ini letaknya berdampingan dengan Gunung Raung dan Gunung Merapi. Secara administratif gunung ini masuk ke dalam wilayah 2 kabupaten, yaitu wilayah Kecamatan Klobang, Kabupaten Bondowoso dan Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.

Meski berada di bawah pengelolaan Cagar Alam Taman Wisata Ijen Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, dan menjadi primadona wisata dari kedua kabupaten tersebut, namun traveller lebih mengenalnya sebagai bagian dari Kabupaten Banyuwangi, karena untuk mencapai lokasi wisata lebih dekat jika ditempuh dari Banyuwangi.

Selain itu moda transportasi umum dari seluruh Pulau Jawa yang menuju ke Banyuwangi juga lebih banyak dan lebih lengkap dibanding yang menuju ke Bondowoso.

Rute Menuju Lokasi

Meski yang dituju adalah puncak gunung, tidak butuh peta maupun smartphone untuk membuka google map, karena lokasi Kawah Ijen dapat diakses dengan sangat mudah, meski untuk sampai lokasi relatif berat.

Bagi wisatawan from Bali, perjalanan menuju ke Kawah Ijen dapat dimulai setelah menyeberang menggunakan kapal ferry dan berlabuh di Pelabuhan Ketapang. Di pelabuhan tersebut, wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi dapat langsung menuju ke Kota Banyuwangi, berlanjut ke Kecamatan Licin hingga melewati Desa Tamansari tepatnya di Dusun Jambu sebelum akhirnya tiba di Paltuding.

Wisatawan yang berangkat dari Surabaya atau dari kota-kota lain di seluruh Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung atau Yogyakarta, perjalanan dapat ditempuh melalui 2 rute, yaitu melewati Bondowoso serta Banyuwangi. Keduanya memiliki plus dan minus.

foto by instagram.com/hengkiahmadoktiarto

Untuk yang lewat Bondowoso, jarak dari Surabaya ke Bondowoso lebih dekat, namun jarak dari Bondowoso ke Paltuding lebih jauh yaitu sekitar 76 km. Sedang untuk yang lewat Banyuwangi, jarak Surabaya ke Banyuwangi lebih jauh, namun jarak Banyuwangi ke Paltuding lebih dekat yaitu sekitar 30 km.

Wisatawan yang memilih rute Bondowoso, dari Surabaya dapat menuju ke Pasuruan, Probolinggo, Situbondo hingga tiba di Bondowoso. Sedang yang memilih rute Banyuwangi, dari Surabaya dapat menuju ke Pasurusan, Probolinggo, Lumajang, Jember hingga tiba di Banyuwangi.

Bagi wisatawan yang membawa mobil pribadi, kedua rute tersebut tidak ada bedanya, karena jika ditempuh dari Surabaya jaraknya hampir sama. Namun bagi wisatawan yang menggunakan angkutan umum, disarankan untuk memilih rute Banyuwangi, karena moda transportasi menuju Paltuding lebih lengkap dan lebih banyak.

Di Banyuwangi, wisatawan dapat memilih trasnportasi jenis apa yang akan digunakan, mulai dari menyewa Jeep Trooper seharga Rp.600.000 – Rp.700.000, sewa motor seharga Rp.75.000 perhari, naik ojek online dengan tarif Rp.150.000 pulang – pergi, serta menyewa angkot.

Untuk sewa angkot, baik yang turun di Stasiun Karangasem maupun di Terminal Sasak Perot biayanya sekitar Rp.125.000 – Rp.150.000 yang dapat diisi 5 – 7 orang. Meski biayanya lebih murah, angkot tersebut hanya dapat mengantar sampai Kantor PT Candi Ngrambi yang ada di Desa Tamansari.

foto by instagram.com/pemayun

Setelah itu wisatawan harus melanjutkan perjalanan menggunakan truk pengangkut belerang menuju Paltuding dengan memberi uang Rp.5.000 perorang ke sopir truk. Jadwal keberangkatan truk pengangkut belerang ke Paltuding ini pada jam 07.00 dan jam 12.00. Sedang jadwal turun dari Paltuding ke Kantor PT Candi Ngrambi pada jam 11.00 dan jam 16.00.

Wisatawan yang akan menuju ke Kawah Ijen, baik yang datang dari Bondowoso maupun Banyuwangi, semuanya harus berhenti di Pos Pertama, yaitu di Paltuding. Di sinilah mereka memarkir kendaraan, membayar tiket masuk serta menyiapkan perbekalan sebelum melakukan hike ke puncak Gunung Ijen.

Jarak antara Paltuding ke Kawah Ijen sekitar 3 km dan sebelum sampai ke kawasan puncak, tepatnya sekitar 2 km dari Paltuding, wisatawan akan melewati tempat pemberhentian terakhir yang disebut Pos Bunder. Di sini aroma belerang yang menyengat sudah mulai dapat tercium.

Perjalanan dari Pos Bunder menuju Puncak Ijen, lebih berat dari sebelumnya, karena track yang harus dilewati berupa tanah berpasir yang bercampur batu halus dan memiliki sudut kemiringan antara 10O – 35O. Total waktu tempuh dari Paltuding menuju ke Puncak sekitar 2 – 3 jam, tergantung dari kondisi medan dan fisik wisatawan.

Pesona Alam

foto by instagram.com/cilkecilkecil

Kawah Ijen tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang indah, tapi wonderful! The big lake yang sebenarnya merupakan kawah ini terhampar dengan warna hijau kebiru-biruan yang terkadang berwarna biru kehijau-hijauan.

Dengan dinding kawah yang dihiasi belerang berwarna kekuning-kuningan menjadi sangat kontras dan semakin tampak indah oleh keberadaan Pohon Manisrejo (Cantiqi) yang tumbuh di sekitar lereng kawah, karena daun dari pohon tersebut berwarna kemerah-merahan.

Di tepi Kawah Ijen, wisatawan akan dibuat terpukau oleh keindahan alam yang tampak di kejauhan berlatarbelakangkan gunung-gunung yang tinggi menjulang, seperti Gunung Raung, Gunung Rente, Gunung Suket dan Gunung Merapi. Gunung Merapi yang dimaksud bukan yang ada di Sleman Yogyakarta, melainkan yang ada di Banyuwangi.

Keindahan lainnya yang mengagumkan di sini adalah terbit dan tenggelamnya matahari alias sunrise dan sunset. Karena cahaya lembut yang dipancarkan matahari berpadu harmonis dengan pegunungan dan bebukitan yang ada di kejauhan.

Namun, puncak dari segala keindahan Kawah Ijen adalah sebuah fenomena alam yang hanya terjadi pada pukul 05.00 pagi. Fenomena tersebut dinamakan Blue Fire atau Api Biru, yang merupakan satu-satunya Blue Fire di dunia yang dapat dinikmati setiap hari. Blue Fire yang keluar dari tengah-tengah tempat penambangan sulfur itulah yang diburu para wisatawan utamanya turis mancanegara.

foto by instagram.com/roudyams

Tidak hanya keindahan alam saja yang menarik untuk dinikmati di kawasan Gunung Ijen ini, tapi juga aktifitas para penambang belerang tradisional. Dengan nyali yang besar para penambang tersebut mengambil belerang yang terdapat di dasar kawah.

Mereka mengumpulkan lelehan belerang dari pipa yang terhubung ke sumber gas vulkanik dengan peralatan sederhana, bahkan untuk menutup hidungpun mereka hanya menggunakan sarung.

Lelehan belerang yang masih dalam bentuk cair saat dikumpulkan, dalam waktu beberapa saat akan membeku. Belerang beku itu kemudian dipotong-potong, dan diangkut dengan cara dipikul. Para penambang tersebut membawa pikulan berisi belerang seberat 80 – 100 kg dengan melewati jalan setapak di lereng kaldera sejauh sekitar 3 km.

Selain menambang belerang, terkadang mereka juga menjadi guide bagi wisatawan yang membutuhkan serta membuat kerajinan dengan bahan belerang untuk dijual kepada wisatawan guna menambah sumber penghasilan.

Harga Tiket Masuk

foto by instagram.com/nangijen

Harga tiket masuk untuk menuju ke Kawah Ijen oleh pihak pengelola dibedakan antara wisatawan lokal dan wisman dengan perbedaan harga yang sangat menyolok. Wisatawan lokal hanya dikenakan HTM sebesar Rp.5.000 pada hari biasa dan Rp.7.500 pada akhir pekan. Sedang HTM untuk wisman sebesar Rp.100.000 pada weekdays dan Rp.150.000 saat weekend.

Fasilitas

HTM tersebut dibayar di Pos Jaga yang ada di Paltuding, dan di sini pula wisatawan menyiapkan perbekalannya sebelum melakukan pendakian. Karena itulah di Paltuding disediakan sejumlah fasilitas umum bagi wisatawan seperti kamar mandi, toilet, mushollah, area parkir yang luas, camping ground serta penginapan milik Perhutani.

Bagi wisatawan yang tidak membawa perbekalan, di Paltuding juga terdapat warung-warung yang menjual makanan serta tempat penyewaan peralatan untuk mendaki seperti masker dan senter. Penjual makanan dan minuman juga dapat ditemui di pos terakhir, hanya saja di Pos Bunder mereka hanya berjualan pada pagi dan siang hari saja.

Wisatawan juga tidak perlu bingung untuk mencari penginapan, karena di sekitar kawasan Ijen terdapat sejumlah penginapan, mulai dari homestay sampai dengan hotel bintang lima. Beberapa diantaranya adalah Ijen Resort and Villas, Kawah Ijen Inn, Catimor Homestay, Arabica Homestay, Ijen Resto & Guest House, Jiwa Jawa Resort Ijen dan sejumlah penginapan yang lain.

Wisata Terdekat

Selain ke Kawah Ijen, wisatawan juga dapat melanjutkan tour ke beberapa tempat wisata lainnya di daerah Banyuwangi yang juga tidak kalah menarik, seperti Pulau Merah, Baluran National Park, G-Land (Pantai Plengkung), Teluk Hijau, Pantai Boom, Blue Bay, Bangsring Underwater dan sejumlah tempat wisata lainnya.

Punya rekomendasi lain?? Komen dibawah ya gaes!

Catatan: Semua data di atas adalah data terakhir pada saat artikel ini dibuat. Jika ada perubahan terbaru yang Kamu ketahui, silakan informasikan kepada kami untuk segera diperbaiki.

Bagi Usaha Rental atau Travel yg ingin masuk dalam artikel diatas, silahkan mengisi kolom komentar. Lengkap dengan informasi: Alamat, Nomer Telepon, WhatsApp dan informasi pendukung lainnya.

4 thoughts on “Sebelum Berkunjung ke Kawah Ijen, Baca ini Dulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.