Keunikan Arsitektur Gereja Blenduk Semarang, Dilihat Dari Berbagai Sudut

Diposting pada
foto by instagram.com/adeliaazzahra97

Lokasi: Jalan Letjend. Suprapto No.32, Semarang Utara, Tj. Mas, Kota Semarang, Jateng 10460
Map: Klik Disini
HTM: Rp.10.000 per Orang
Buka Tutup: 09.00-16.00 WIB
Telepon: 024-355-4271

Sebagai negara dengan bentuk kepulauan yang tersebar dari ujung pulau sumatera hingga tanah papua, tentunya Indonesia tak hanya kaya akan seni & budayanya, namun juga kaya akan keanekaragaman suku & juga agama yang di anut secara bebas oleh setiap warga negaranya.

Di Indonesia sendiri, mengakui keberadaan dari Agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Buddha, Hindu serta yang di akui pada era Presiden Abdurrahman Wahid yakni agama Kong Hu Cu.

Sekarang Menjadi GPIB Immanuel Semarang, Foto: wikipedia.org

Dengan keanekaragaman agama tersebut, menjadikan Indonesia memiliki banyak tempat-tempat beribadah bagi setiap kelompok agama yang di akui oleh pemerintah.

Seperti Masjid & Mushola bagi umat yang beragama islam, Gereja & Kapel bagi mereka yang beragama Kristen baik Katolik maupun Protestan, Vihara untuk umat beragama Buddha, Pura untuk umat Hindu.

Serta Li Tang atau yang lebih kita kenal dengan Klenteng untuk mereka yang beragama Kong Hu Cu.

Beberapa tempat beribadah itupun, ada juga yang memiliki nilai sejarah di masing-masing daerah. Seperti Masjid Raya Baiturrahman di Aceh, Masjid Istiqlal Jakarta, serta Masjid Agung Banten & masih banyak lagi masjid lainnya.

Begitupun dengan Gereja, ada Gereja Katedral di Jakarta & Bandung, serta yang tak kalah tersohor yakni Gereja Blenduk di Semarang Jawa tengah.

Gambar: betulcerita.blogspot.co.id

Sementara Vihara sendiri ada Vihara Maitreya di Medan, Vihara SianJin Ku Poh di Karawang, serta Vihara Buddhagaya Watugong Semarang. Untuk Pura ada Pura dengan nama Parahyangan Agung Jagatkarta di Bogor serta Pura Uluwatu & Besakih di Bali.

Klenteng Kong Hu Cu? Tenang! Ada juga kok! Meski baru di akulturasi di era Presiden Abdurrahman Wahid, namun beberapa Klenteng yang bersejarah juga terdapat di beberapa daerah seperti Klenteng Hong TiekHan di Surabaya, Klenteng HokTek Ceng Sin di Jepara & Klenteng Talang di Keprabon.

Namun pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai salah satu Gereja yang kerap kali di kunjungi baik ketika beribadah maupun sekedar berwisata ke daerah Semarang. Penasaran seperti apa? Yuk simak rangkuman informasi berikut ini hingga akhir artikel!.

Bangunan Terkenal, Photo: visitsemarang.com

Sekilas Sejarah

Bila ditilik dari sejarah kapan dibangunnya Gereja yang satu ini, ternyata telah melegenda & berdiri sejak 1753.

Gereja ini bahkan menjadi landmark dari Kota lama Semarang, meski sekarang dikenal dengan nama Gereja Blenduk, nyatanya Gereja ini memiliki nama asli yakni Nederlandsch Indische Kerk yang kemudian dirubah namanya menjadi Gereja Immanuel ketika Indonesia telah merdeka.

Penyebutan menjadi Gereja Blenduk sendiri, merujuk tentang gaya atapnya yang berbentuk kubah membulat atau dalam Bahasa jawanya sendiri yakni Blenduk.

Pendiri pertama Gereja ini pada 1753 sendiri, belum diketahui siapa orangnya. Pada 1753 bentuk dari Gereja ini sendiri masih berupa rumah panggung model jawa, serta atap yang juga menggunakan model atap rumah jawa.

Barulah pada 1757 hingga 1894 gereja ini direnovasi oleh H.P.A. de Wilde dan juga W. Westmas sebagai perombakan kedua, setelah sebelumnya juga mengalami perombakan pada 1753 & terakhir dipugar pada tahun 2003.

Setiap renovasi yang dilakukan selalu diabadikan melalui tulisan yang di ukir pada prasasti berbahan batu marmer yang dipasang di bagian bawah altar gereja.

Renovasi yang dilakukan pun tetap mempertahankan ciri khas bangunan aslinya & tidak merubah agar gaya arsitektur dari Eropa klasik yang memiliki kesan anggun dan aristocrat tetap terjaga.

Keunikan, image by instagram.com/aas.ashari

Keindahan dan Keunikan

Profil dari Gereja Blenduk yang kita lihat sekarang ini, adalah karya dari sang arsitek yang bernama W. Westmaas & juga H.P.A. de Wilde, yang menggunakan Gereja dengan gaya Arsitektur Pseudo Baroque yang kala itu tengah naik daun pada abad XVII hingga XIX M di Eropa dengan denah yang membentuk bangunan segi delapan & menggunakan kubah sebagai atapnya.

Atap kubah ini pertama kali dibangun & merupakan maha karya dari Sir Christopher Wren yang dipergunakan oleh gereja St. Paul’s (1675-1710).

Konstruksi dari kubahnya sendiri bergaya Byzantine, yang menggunakan kerangka besi menggunakan jari-jari sebanyak 32 buah & dilengkapi dengan gelang baja yang menjadi titik pusatnya.

Untuk bagian dindingnya sendiri, terbuat dari bata yang kemudian diplester & diberi sentuhan finishing menggunakan cat.

Di bagian puncak dari kubah gereja ini terdapat sebuah mahkota berjendela krepyak yang berbentuk persegi delapan. Bentuk ini lah, yang menyebabkan masyarakat menyebut bangunan ini sebagai Gereja Blenduk.

Ruang induk dari Blenduk Church ini berada di pusat bangunan, dengan luas bangunannya sendiri kurang lebih 400 M2 disertai dengan empat bangunan sayap yang mengelilinginya.

Pada bagian tengah ruang dipergunakan sebagai ruang bagi jemaat & konstitori, sementara di bagian kanan dari ruang utama anda akan menemukan tangga besi dengan bentuk melingkar yang menuju ke balkon, dimana alat musik yang bernama orgel terletak.

Wisata Religi, Foto: panduanwisata.id

Orgel & Tangga lingkar ini memiliki ciri yang begitu spesifik, seperti pada bagian tangganya anda akan menemukan tulisan pletriji den Haag. Bila merujuk pada penulisan den Haagnya yang merupakan nama salah satu kota di Belanda, mungkin saja merupakan asal dari benda ini.

Sementara orgelnya sendiri merupakan sebuah alat musik yang merupakan karya dari Hummer & P. Warfangler, sayangnya kondisi alat musik antik ini sudah tak dapat di fungsikan kembali alias rusak.

Selebihnya pada bagian kiri ruang utama, anda akan menemukan tangga yang menuju ke Kantor Gereja.

Kusen serta pintu jendela Gereja Blenduk ini, terbuat dari bahan kayu jati yang memiliki ukuran tinggi & lebar yang menyesuaikan dengan tinggi bangunan serta bidang dindingnya.

Pada bagian pintunya sendiri, menggunakan bahan yang sama dengan kusennya yang menggunakan model pintu dengan rangka berpanil, sementara di bagian tingkap atasnya menggunakan hiasan dari kaca patri.

Untuk bagian Jendela bawahnya sendiri, berupa kaca mati yang berbahan kaca patri berwarna, dengan motif bunga & persegi delapan.

Dengan menempatkan kaca tersebut pada bagian dindin gereja, tentunya memberi aksen pada bagian dalam gereja, terutama pada saat matahari siang bersinar & pantulannya menembus kedalam ruangan dengan siluet sinar yang berwarna-warni ke bagian dalam bangunan yang membuatnya terlihat semakin indah.

Untuk bagian menara gerejanya sendiri, terdapat jendela yang menggunakan model krepyak kayu dengan konsep peletakan secara miring.

Arsitektur, gambar by klikhotel.com

Di bagian Menara pun terdapat lonceng maha karya dari J.W. Steegler yang merupakan warga Belanda, pada tahun 1703. Sementara pada bagian lainnya yakni pada dinding yang menjadi penahan konstruksi kubah, diberikan sebuah jendela jungkit tinggi yang bermaksud sebagai ventilator ruangan di dalam bangunan gereja.

Tak hanya pada struktur bagian bangunan, kubah & Menara, Lantai pun menjadi salah satu bagian yang di perhatikan detailnya. Pada bagian ruang jemaat, lantainya dibuat menggunakan tegel semen dengan motif geometris.

Sementara Lantai yang terletak di entrance hall & porch, bahannya diganti menggunakan granit. Pun demikian dengan bagian nave arcade serta anak tangga yang mengarah ke lantai dua, diganti bahannya menggunakan keramik.

Sementara di lantai dua sendiri, bahan yang dipasang sebagai penutup lantai sendiri merupakan pasangan papan dengan fungsi sebagai rangka dari konstruksi lantai yang menggunakan rangka balok kayu.

Di bagian plafonnya sendiri, menggunakan rangka berbahan kayu, yang dipasang pada rangka bagian lantai dengan material berupa kayu/papan.

Material tersebut kemudian diberi motif bunga untuk bagian tengahnya, serta disematkan lis papan untuk tepian dengan bentuk yang geometris.

Tak hanya di pasang pada bagian plafon bangunan utama, bahan ini juga dipergunakan sebagai konstruksi untuk langit-langit kantor gereja serta pada bagian atas di pintu timur.

Ruang Dalam, Foto: wikimedia.org

Plafon yang menggunakan papan berbahan kayu jati ini, disusun berderet melingkar dengan menyesuaikan bentuk kubah yang telah di dukung dengan konstruksi rangka kubah berbahan besi.

Sementara di bagian tengahnya sendiri diberikan lampu gantung dengan bahan besi cor yang bersusun dua, yang dilengkapi delapan buah lampu pada setiap bagiannya. Lampu ini menggantung secara kuat pada bagian atas, yang terhubung langsung dengan rangka kubah.

Sementara plafon yang berada di ruang jemaat, memiliki bentuk berbeda dengan bentuk kubah yang terpasang pada bagian luar. Untuk bagian dalamnya sendiri, berbentuk setengah lingkaran yang menggunakan rangka besi sebagai pembentuk rangka utamanya.

Rangka pembentuknya ini memiliki ukuran & dimensi yang berbeda dengan rangka pembaginya, untuk bagian puncak kubah sendiri terdapat stiffener berbentuk cincin yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat penggantung lampu hias.

Peletakan lampu hias yang berada tepat pada bagian tengah kubah ini memiliki posisi penting bagi ketahanan bangunan gereja ini sendiri, kemungkinan memiliki fungsi sebagai pemberat agar konstruksi kubah di bagian dalamnya tetap rigid & tidak berubah bentuk agar bentuk bangunan gerejanya tetap utuh.

Gereja Kristen Tertua di Jawa Tengah, Foto: ulinulin.com

Bila dinilai menggunakan estetika, langit-langit di tiap bangunan gereja memiliki kesan yang sederhana dan hanya mengikuti dengan konstruksi yang ada.

Hal ini pun ditujukan agar bangunan gereja ini tetap kembali pada penekanan fungsi dibanding keindahan bangunan, namun justru karena ini lah kesan megah dari bangunan Gereja Immanuel ini terlihat begitu indah & elegan sebagai tempat ibadah.

Penggunaan tangga sebagai satu-satunya akses untuk ke lantai 2 pun, diperhatikan bentuk serta konstruksi dari setiap tangganya dengan tingkatan yang berbeda-beda.

Bagi tangga yang mengarah dimana orgel berada, menggunakan tangga putar yang berbahan konstruksi besi cor. Meski sisi fungsional lebih ditekankan pada tangga ini, namun tangga putar ini tetap memiliki bentuk yang artistik.

Sementara untuk tangga lainnya yang berada di bagian selatan, tangga tersebut mengarah ke ruangan majelis yang berada di lantai dua. Tangga ini dulu berbahan kayu, namun kini telah dilapisi menggunakan keramik.

Sementara bagi tangga yang berada di sisi timur, juga menggunakan bahan yang sama yakni menggunakan material kayu.

Meski konstruksinya terlihat sederhana & tanpa penggunaan ornament, namun keberadaannya mampu menyatu dengan kemewahan ruang lainnya yang berada di dalam gereja.

Masih Digunakan Sampai Sekarang, Foto: wikimapia.org

Letak Lokasi

Bagi anda yang penasaran dengan alamat dari Gereja Immanuel alias Gereja Blenduk ini, dapat langsung ke smg jawa tengah dengan alamat lengkapnya di Jl.Letjend Soeprapto atau yang pada tempo dulu lebih dikenal dengan kawasan Heerenstraat.

Gereja yang merupakan salah satu diantara banyak gereja tua di pulau jawa ini, ternyata merupakan yang tertua di Jawa tengah.

Meski Gereja ini masih aktif dalam jadwal pelayanan & kebaktian, namun siapa saja boleh berwisata ke Gereja bersejarah yang satu ini.

Harga Tiket Masuk

Biaya nya sendiri cukup 10 ribuan saja perorangnya, dengan biaya yang semurah itu anda bisa menikmati setiap fasilitas & sudut Gereja Blenduk yang memiliki arsitektur bergaya Hindia Belanda yang begitu memanjakan mata.

Disini anda juga bebas mengambil foto & mengambil gambar dari setiap sudut bangunan maupun lukisan tua, tak jarang banyak anak muda yang melakukan video blogging di tempat ini baik untuk keperluan jurnal maupun untuk keperluan cerita baru di media sosialnya.

Selain bangunannya yang megah & tampak cantik baik di bagian depan maupun sekelilingnya, di bagian belakang bangunan ini anda juga bisa bersantai pada taman yang begitu rindang.

Cara Menuju Lokasi

Bagi anda yang ingin menuju ke Gereja Blenduk dari Ungaran menggunakan transportasi umum, dapat menaiki bus bernomor 2 dari Terminal Ungaran hingga Jl.Doktor Setiabudi & di lanjutkan menggunakan Bus C10 dari Terminal bus Rejomulyo.

Dari situ anda bisa turun di Halte yang ada di Jl. Mt.Haryono 514 & melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, kurang lebih 10 menit.

Sementara bagi anda yang datang dari luar semarang menggunakan pesawat & turun di Bandara Ahmad Yani, anda dapat berjalan keluar & menggunakan Bus bernomor 4 yang mengarah ke Tawang.

Setelah itu anda dapat turun di Jl.Gajah mada & melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga tiba di tujuan selama kurang lebih 10 menit.

Sementara bagi anda yang menggunakan kereta api & turun di Stasiun Tawang, dari situ anda dapat melanjutkan perjalanan menggunakan bus no 4 yang mengarah ke Cangkiran & turun di Shelter Balaikota.

Dari Shelter tersebut anda dapat menyebrang & berpindah dengan bus yang mengarah ke tawang hingga tiba di Jl.Gajah Mada & melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sementara bagi anda yang berkendara baik dari dalam maupun luar kota semarang, dapat menggunakan bantuan aplikasi peta seperti google maps yang biasanya sudah terpasang di smartphone anda secara default.

Cukup masukan lokasi & tujuan anda, maka google maps akan mengarahkan anda menuju rute tercepat untuk tiba di tujuan.

Wisata Terdekat

Wisata lainnya yang mungkin menarik bagi anda ialah wisata misteri yang kental dengan kota semarang, beberapa di antaranya seperti Lawang sewu yang sudah tak asing lagi bagi kebanyakan orang.

Ada juga Rumah Marabunta dengan patung semutnya yang misterius & juga cerita horror penampakan noni belanda, ataupun berkunjung ke Hotel Siranda yang konon tak hanya menyeramkan di malam hari namun juga pada siang hari.

Bagi penggemar batik, disini juga ada Kampung Batik maupun Omah Batik yang sudah tersohor di semarang. Sementara bagi anda yang gemar wisata kuliner, dapat mencoba angkringan blendoek yang tengah hits di kawasan kota lama yang kini berseberangan langsung dengan lawang sewu.

Tak jauh dari Gereja Blenduk ini, anda juga bisa menemukan sebuah café yang biasanya ramai dengan muda-mudi semarang. Café yang bernama Retro café serta Keris café ini, biasanya ramai pada malam hari terutama saat weekend.

Jadi tunggu apalagi? Yuk kunjungi Gereja Blenduk & juga destinasi wisata lainnya di kota semarang.

Punya rekomendasi lain?? Komen dibawah ya gaes!

Catatan: Semua data di atas adalah data terakhir pada saat artikel ini dibuat. Jika ada perubahan terbaru yang Kamu ketahui, silakan informasikan kepada kami untuk segera diperbaiki.

Bagi Usaha Rental atau Travel yg ingin masuk dalam artikel diatas, silahkan mengisi kolom komentar. Lengkap dengan informasi: Alamat, Nomer Telepon, WhatsApp dan informasi pendukung lainnya.

One thought on “Keunikan Arsitektur Gereja Blenduk Semarang, Dilihat Dari Berbagai Sudut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.